BUAV PERLIHATKAN PERAN MENGEJUTKAN YANG DIMAINKAN OLEH LAOS DALAM PERDAGANGAN INTERNASIONAL PRIMATA BAGI PENELITIAN

London, 18 Februari /PRNewswire-AsiaNet/ — BUAV, organisasi terkemuka
perlindungan hewan, menyeru CITES (Konvensi mengenai Perdagangan Internasional
Spesies Terancam) agar melakukan tindakan setelah organisasi itu melakukan
penyelidikan mengenai peristiwa mengejutkan mengenai meluasnya perdagangan
primata dari Laos ke China dan Vietnam bagi industri penelitian.

Para penyelidik BUAV secara diam-diam membuat film mengenai bagian dalam
peternakan terbesar kera (Vannaseng Trading Company) dan menayangkannya pada
perdagangan primata pertama di Laos, yang juga mengungkapkan pembangunan
peternakan baru kera.

Yang diperlihatkan adalah gambar yang mengganggu perasaan mengenai
penderitaan hewan, sementara tersebar keprihatinan mengenai status pelestarian
macaque (Macaca fascicularis), yang berekor panjang, di Asia Tenggara dan
kepatuhan Laos pada CITES. Yang juga diangkat ialah pertanyaan mengenai peran
China dalam mengeksport kembali primata dari Laos untuk laboratorium penelitian
di Amerika Serikat dan Eropa.

Laos bergabung dengan CITES pada 2004, dan mengeksport 20.000 macaque ke
China serta Vietnam dalam waktu empat tahun.

Temuan utama dari penyelidikan BUAV ialah:
– Kesejahteraan hewan: Kondisinya melanggar panduan internasional. Ribuan
kera menderita di dalam kandang kecil yang berderet-deret.

– Pelestarian macaque, yang berekor panjang: Seorang pejabat dari
Departemen Kehutanan Laos mengakui bahwa tak pernah ada survey populasi
bagi macaque di Laos. Namun setidaknya sejak 2003, beribu-ribu macaque telah
ditangkap di alam lepas bagi industri penelitian.

– CITES: Ada keprihatinan mengenai keabsahan klaim pengembang-biakan di Laos
dan salah-penyajian kode sumber mengenai izin eksport CITES bagi ribuan
macaque, yang berekor panjang, yang dieksport. Terlebih lagi, tak ada laporan
tahunan, satu ketentuan CITES, yang telah diajukan sejak LAOS bergabung dengan
CITES.

– Eksport-kembali kera Laos: Kera tak memiliki identifikasi permanen,
sehingga kredibilitas setiap catatan dipertanyakan. Vannaseng memberitahu BUAV
bahwa kera yang dijual ke China digunakan buat tujuan pengembang-biakan atau
dieksport-kembali ke laboratorium penelitian di Eropa serta Amerika Serikat.

– Direktur Proyek Khusus BUAV, Sarah Kite, menyatakan, “BUAV menginginkan
diakhirinya perdagangan yang barbar dan kejam ini. Kami menyerukan dilakukannya
penyelidikan penuh mengenai temuan kami. CITES dan pemerintah harus menangani
barang rampasan yang bertambah ini, mengenai populasi macaque, dari hutan
habitat mereka di Asia Tenggara untuk mengisi industri penelitian
internasional.”

Untuk keterangan lebih lanjut dan visual, kontak Sarah Kite di
sarah.kite@buav.org atau di nomor +1-505-920-6175.

Silakan kunjungi jejaring BUAV dengan alamat:
http://www.buav.org

Sumber: BUAV