Para Ahli Bertemu di Harvard University Usulkan ‘Masalah Tersulit yang Belum Terpecahkan’ untuk Abad Mendatang di Bidang Ilmu Sosial

Selama 45 Hari Mendatang, Seluruh Dunia Diundang untuk Memeringkatkan Proposal
dan Menyerahkan Masalah Tambahan; Suara Terbanyak Diumumkan pada Juni

CAMBRIDGE, Mass., 22 April /PRNewswire-AsiaNet/ — Hasil-hasil pertama
dari inisiatif Divisi Ilmu Sosial Harvard University untuk mengidentifikasi
berbagai masalah tersulit di dunia di bidang ilmu ekonomi, psikologi,
pemerintah, sosiologi, dan ilmu-ilmu sosial lainnya diumumkan hari ini.

“Ilmu-ilmu sosial tidak pernah lebih bergairah dari hari ini, dan menjawab
pertanyaannya yang belum terpecahkan tidak pernah lebih penting,” kata Stephen
Kosslyn, Dekan Ilmu Sosial di Harvard.

Dalam simposium sehari yang disiarkan langsung, 12 pakar terhormat dari
berbagai universitas mengusulkan lebih dari 30 pertanyaan penting bagi ilmu
sosial untuk dibahas pada tahun-tahun mendatang, termasuk:

– Bagaimana hubungan sosial kita mempengaruhi gen kita, dan bagaimana gen
kita mempengaruhi hubungan kita?
– Bagaimana masyarakat kita menciptakan, atau menciptakan ulang, lembaga
yang efektif dan ulet
– Mengapa wanita, rata-rata, masih berpenghasilan kurang dari pria yang
sama-sama berpengalaman dalam pekerjaan yang sama, dan bagaimana kita dapat
menutup kesenjangan ini?
– Bagaimana kita dapat membangun sistem yang tahan terhadap krisis
finansial?
– Bagaimana kita mengurangi “kesenjangan keterampilan” kelas delapan
antara kelompok-kelompok etnis?
– Apakah perdagangan bebas mengurangi resiko kegagalan negara?
– Bagaimana unsur-unsur sederhana berpadu dalam jumlah besar untuk
menghasilkan sistem yang kompleks (misalnya, sistem ekonomi)?
– Apa asal-usul preferensi dan selera pribadi?
– Bagaimana kita dapat mendorong lebih banyak orang untuk terlibat dalam
perilaku yang banyak dikenal guna meningkatkan kesehatan?
– Karena lebih banyak informasi pribadi dicatat dan disimpan, bagaimana
budaya dan lembaga akan berubah?

Para pakar ini mencakup Nick Bostrom (Oxford), Susan Carey (Harvard),
Nicholas Christakis (Harvard), James Fowler (UCSD), Roland Fryer (Harvard),
Claudia Goldin (Harvard), Gary King (Harvard), Emily Oster (Chicago), Ann
Swidler (Berkeley), Nassim Taleb (NYU/Polytech), and Richard Zeckhauser
(Harvard).

Semua proposal, forum diskusi, dan video simposium ada di
http://socialscience.fas.harvard.edu/hardproblems.

Tahap kedua yang kritis dimulai hari ini. Selama 45 hari mendatang, siapa
pun di seluruh dunia dapat menyerahkan masalah tambahan untuk dimasukkan di
situs web di atas dan memilih pentingnya dan kesulitas setiap proposal. Pada
Juni, Harvard akan mengumumkan masalah yang menerima suara terbanyak.

Upaya ini, yang diprakarsai dan didanai oleh Indira Foundation, sebuah
yayasan nirlaba, terinspirasi oleh David Hilbert, yang menantang dunia untuk
memecahkan 23 masalah matematis mendasar pada tahun 1900. Sejak itu, para ahli
matematika telah memecahkan 10 dari ‘Masalah Hilbert’ yang kini terkenal,
dengan menciptakan bidang pengetahuan baru di sepanjang jalan.

“Hilbert membuat dua pengamatan kuat,” ujar Nicholas Nash, anggota Indira
Foundation. “Pertama, mengalami masalah penting yang belum terpecahkan amat
diperlukan untuk vitalitas suatu disiplin. Dan, karena penting, dengan
mengidentifikasi masalah-masalah itu, kita dapat menginspirasi generasi
mendatang untuk memecahkannya.”

Tentang Indira Foundation
Indira Foundation adalah organisasi amal berbasis di Connecticut yang
mendukung program yang dapat membuat perbedaan di bidang pendidikan, perawatan
kesehatan, dan kesejahteraan sosial.

Kontak Media: Steve Bradt (+1-617-496-8070, sbradt@fas.harvard.edu)

Facebook: Hard Problems in Social Sciences

SUMBER: Harvard University

KONTAK: Steve Bradt,
+1-617-496-8070,
sbradt@fas.harvard.edu