RSPO Komentari Usulan RUU Pelabelan Minyak Sawit di Australia

AsiaNet 44531

KUALA LUMPUR, Malaysia, 9 Mei 2011 /PRNewswire-Asia-AsiaNet/ —

http://www.rspo.org/media/index.php

Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) hari ini mengeluarkan pernyataan
atas sikap mereka terhadap “Kebenaran di balik Pelabelan”- Rancangan
Undang-Undang Minyak Sawit tahun 2010 di Australia, yang mana keharusan
mencantumkan pelabelan atas produk yang mengandung minyak sawit telah diusulkan.

Tujuan Undang-Undang ini adalah untuk memastikan bahwa konsumen memperoleh
informasi yang jelas dan akurat tentang penyertaan minyak sawit dalam makanan;
dan mendorong penggunaan minyak sawit berkelanjutan dalam rangka meningkatkan
perlindungan habitat satwa liar. RSPO mendukung tujuan yang terakhir tersebut.

Darrel Webber, Sekretaris Jenderal RSPO, berkomentar bahwa: “Namun
demikian, membedakan minyak sawit sebagai satu-satunya minyak nabati yang
memerlukan label menyiratkan bahwa minyak nabati lainnya tidak menghadapi
tantangan serupa. RSPO mengambil pandangan kuat terhadap dugaan ini karena
isu-isu seputar kerusakan lingkungan,keprihatinan sosial dan pelestarian satwa
liar lazim ditemukan padabudidaya semua jenis tanaman monokultur.

“Selanjutnya, pelabelan yang mengkhususkan minyak sawit hanya akan
mengucilkan petani di negara-negara berkembang seperti Indonesia, Malaysia,
Papua New Guinea, Amerika Selatan, Afrika Barat, dan lain-lain yang sumber
pendapatan utamanya berasal dari minyak sawit. Sebaliknya, para petani ini
harus dididik, dibimbing, didorong dan diilhami untuk mengadopsi standar dan
solusi yang berkelanjutan, sehingga mata pencaharian mereka tidak harus
terpengaruh. Program sertifikasi RSPO bertujuan mendukung para petani
sehubungan dengan hal ini,” tegas Webber.

Ia kemudian menambahkan bahwa: “Penyebarluasan jangka panjang usulan RUU
ini dapat menurunkan permintaan minyak sawit namun tidak akan menghilangkan
alasan utama tujuan pembahasan usulan ini pada awalnya. Hal ini karena minyak
nabati adalah bahan utama dalam berbagai produk konsumen. Permintaan hanya akan
beralih ke minyak nabati lainnya, yang selanjutnya meningkatkan masalah
produksi berkelanjutan yang berhubungan dengan tanaman tertentu lainnya.”

Perkembangan terkini yang diharapkan RSPO akan dapat menjawab beberapa
pemikiran strategis dan pertimbangan di balik usulan RUU ini adalah peluncuran
merek dagang RSPO, yang akan tertera pada kemasan dan label produk yang
mengandung Certified Sustainable Palm Oil (CSPO) RSPO pada bahan mentah atau
bahan baku mereka, yang akan diluncurkan pada pertengahan tahun 2011 ini.

Merek dagang ini akan memungkinkan konsumen mengkonfirmasi secepatnya
bahwa produk yang mereka beli berkontribusi terhadap produksi
minyak sawit berkelanjutan. Logo merek dagang ini dapat tercantum pada kemasan
ribuan produk konsumen di seluruh dunia.

“Sertifikasi RSPO di tingkat perkebunan dan merek dagang pada produk akhir
melengkapi lingkaran dari hulu ke hilir di sepanjang rantai pasok dan akan
mencerminkan bahwa budidaya minyak sawit berkelanjutan tidak berkontribusi
terhadap perusakan berkelanjutan hutan tropis yang berharga atau merusak
kepentingan masyarakat di kawasan di mana kelapa sawit tersebut ditanam,”
demikian ungkap Webber.

SUMBER Roundtable on Sustainable Palm Oil

RSPO Comments on Proposed Palm Oil Labeling Bill in Australia 
    
KUALA LUMPUR, Malaysia, May 9, 2011 /PRNewswire-Asia-AsiaNet/ —

http://www.rspo.org/media/index.php
   
     The Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) today released a statement of their positioning on the Truth in Labeling – Palm Oil Bill 2010 in Australia, whereby mandatory labeling of products containing palm oil has been proposed.

     The purpose of the Act is to ensure that consumers have clear, accurate information about the inclusion of palm oil in foods; and to encourage the use of certified sustainable palm oil in order to promote the protection of wildlife habitats. RSPO supports the latter objective.

     Darrel Webber, Secretary General of the RSPO, commented that: “However, distinguishing palm oil as the only edible oil that requires labeling implies that other edible oils do not face similar challenges. RSPO takes a strong view against this supposition as issues surrounding environmental destruction. Social concerns and wildlife conservation are prevalent across the board with cultivation of any type of monoculture crops.

     “Further to this, such a labeling exercise that singles out palm oil may only serve to ostracize agricultural farmers in developing markets such as Indonesia, Malaysia, Papua New Guinea, South America, West Africa, etc. whose key source of income comes from palm oil. These smallholders need to be educated, guided, encouraged and inspired to adopt sustainable standards and solutions, rather than have their livelihoods affected. RSPO certification program aims to support smallholders in this light,” Webber reiterated.

     He went on to say that: “The long term repercussion of this proposed Bill may decrease the demand for palm oil but will not eliminate the key reasons this proposal is aimed at addressing in the first place. This is because edible oil is a key ingredient in most consumer products. Demand would merely shift to other vegetable oils, increasing the sustainability problems connected to these other particular crops.”
   
     An imminent development which the RSPO hopes will address some of the strategic thinking and considerations behind this proposed Bill will be the launch of the RSPO trademark, which will be stamped on product packaging and labels which contain RSPO Certified Sustainable Palm Oil (CSPO) in their raw material or feedstock, targeted for launch by mid 2011 this year.

     The trademark will enable consumers to confirm very quickly that the products they buy contribute to sustainable production of palm oil. The trademark logo could end up on the packaging of thousands of consumer products worldwide.

     “RSPO certification at the plantation level and the trademark on the end product completes the loop from upstream to downstream within the supply chain and will reflect that sustainable oil palm cultivation does not contribute to the sustained destruction of valuable tropical forests or damage the interests of people in the regions where the palms are grown,” Webber concluded.

     SOURCE  Roundtable on Sustainable Palm Oil