Resiko dan Peluang Pajak di Asia Pasifik Diumumkan oleh KPMG: Majalah Baru yang Fokus pada Masalah Utama

AsiaNet 47273

SYDNEY, Australia, 14 November /CNW-AsiaNet/ —

Ketidakpastian ekonomi, pajak dan reformasi peraturan: dihadapkan pada
tantangan-tantangan yang rumit ini, para direktur pajak perlu melakukan
pendekatan untuk berfikir ke masa depan guna merancang ulang operasi mereka dan
mengubah strategi jangka panjang mereka dalam menanggapi masalah ini.

Berbagai tantangan ini menjadi fokus hari ini di KPMG Asia Pasifik Summit
2011 (Konferensi Tingkat Tinggi Pajak di Asia Pasifik) di Sydney, Australia,
dan melalui majalah baru berjudul “Future Focus: Tax and Transformation in Asia
Pacific’s New Business Reality”.

Fokus Masa Depan dan KTT menyoroti bagaimana perusahaan-perusahaan yang
berbisnis di kawasan Asia Pasifik perlu memeriksa fungsi pajak mereka serta
melakukan perubahan dan inovasi dalam prioritas tertinggi mereka untuk
mengatasi peningkatan kompleksitas dan perkembangan yang amat cepat pada area
yang diamati.

“Dari audit ‘transfer pricing’, sampai para pelaku bisnis yang melancong
dalam jangka pendek, hingga tantangan struktur pemegang saham, otoritas pajak
tengah melihat aktivitas lintas batas pembayar pajak untuk menopang keuangan
pemerintahan mereka dan mencegah kebocoran pendapatan,” ungkap Warrick Cleine,
Kepala Pajak KPMG Asia Pasifik. “Bisnis di wilayah ini semakin meningkat agar
tetap sesuai dengan kecepatan dan kompleksitas perubahan.”

Majalah ini, yang dikembangkan oleh para profesional pajak senior dari
KPMG, mengidentifikasi bagaimana perusahaan Asia Pasifik saat ini perlu
mengatasi berbagai bentuk ‘transfer pricing’ pada berbagai tahap perkembangan,
mulai dari pasar yang maju di Jepang dan Australia, hingga bentuk yang kurang
berkembang dari negara-negara di Asia Tenggara seperti Malaysia, Indonesia dan
Vietnam.

Bapak Cleine berujar, “Perbedaan ini dapat menggagalkan upaya untuk
menetapkan kebijakan ‘transfer pricing’ pada perusahaan. Dihadapkan pada bentuk
baru juga dapat beresiko. Meskipun ‘transfer pricing’ pada perusahaan menjadi
lebih baik, tim otoritas pajak, khususnya di pasar baru Asia, kemungkinan
memiliki pengalaman yang kurang banyak, yang dapat mempersulit audit dan
menimbulkan perselisihan. ”

Kawasan Asia Pasifik telah mengamati tingkat yang lebih tinggi dari
pengawasan atas ‘transfer pricing’. Di China, misalnya, meskipun jumlah
keseluruhan kasus tetap sama selama lima tahun terakhir, nilai rata-rata setiap
penyesuaian telah meningkat pesat, sehingga total nilai penyesuaian telah
meningkat sebesar 354 persen (kurang dari RMB500 juta pada 2005 hingga lebih
dari RMB2 miliar pada tahun 2009).

Menurut para profesional pajak di KPMG, ada tanda-tanda bahwa
kecenderungan ini akan meningkat cepat. Peningkatan dalam peraturan ‘transfer
pricing’ di kawasan Asia Pasifik dan dokumentasi yang sesuai telah memberikan
otoritas pajak dengan banyaknya data yang dapat mereka gunakan untuk memilih
target audit. Berkat teknologi database, otoritas pajak dapat menggunakan
informasi ini untuk menargetkan industri, kelompok atau bahkan perusahaan
dengan hasil yang tidak biasa dan memfokuskan pencarian mereka pada transaksi
di dalam berbagai wilayah.

Fokus Masa Depan juga membahas bagaimana bisnis di kawasan ini perlu
merencanakan perubahan pajak tidak langsung dan mengamati bagaimana rata-rata
tarif VAT/GST di Oceania meningkat dari 12 persen pada tahun 2010 menjadi 12,5
persen pada tahun 2011 dan di Asia yang meningkat dari 11,64 persen pada tahun
2010-11,93 persen pada tahun 2011.

“Bisnis di kawasan Asia Pasifik harus menjaga perubahan pajak tidak
langsung pada perencanaan strategis mereka,” ujar Bapak Cleine. “Misalnya,
mereka harus memastikan untuk mengakomodasi tarif baru dan mengubah tarif GST
/VAT saat negosiasi kontrak jangka panjang dengan para pemasok dan saat
menerapkan sistem IT yang baru. Mereka juga harus memastikan bisnis mereka
memiliki perpaduan hak untuk pajak penghasilan dan sumber pengelolaan GST/VAT
di wilayahnya”

Perencanaan dan persiapan untuk mengelola manajemen resiko pajak disoroti
lebih lanjut di majalah ini dan pembahasan tentang gempa bumi di Jepang pada
bulan Maret 2011 dan setelahnya yang menunjukkan pentingnya memiliki sistem
yang kuat di setiap wilayah untuk melacak dan merencanakan perjalanan para
pekerja. Berbagai kejadian darurat seperti ini dapat dialami tanpa adanya
peringatan, menciptakan kebutuhan untuk memindahkan karyawan keluar dari zona
bahaya untuk jangka waktu yang tidak pasti maupun memindahkan mereka ke negara
asing untuk jangka waktu yang lebih lama dari yang diinginkan.

Sebagai perusahaan di negara-negara Asia Pasifik yang berkembang dan
memperluas ke pasar yang baru, tim pajak mereka perlu menemukan cara untuk
mengatasi masalah-masalah global yang rumit seperti ini serta menambah nilai
bagi organisasi mereka.

Untungnya, solusi untuk banyak masalah ini telah diatasi dari waktu ke
waktu dan dengan banyaknya kesulitan yang dialami oleh berbagai organisasi
terkemuka di Eropa, Amerika Utara dan di seluruh dunia.

“Berbagai perusahaan di Asia Pasifik dapat melewati fase-fase perkembangan
ini dengan mengadopsi sistem, proses dan teknologi yang telah terbukti dan
teruji,” ungkap Bapak Cleine. “Melalui majalah baru dan KTT kami ini, para
profesional pajak di KPMG memberikan banyak ide yang nyata di mana
perusahaan-perusahaan di Asia Pasifik dapat bekerja lebih maju.”

Untuk informasi lebih lanjut, yang mencakup diskusi media sosial dari KTT
ini, kini tersedia di Twitter (http://twitter.com/#!/kpmgglobal) dan LinkedIn
(http://www.linkedin.com/groups?gid=4064840). Video dan informasi lainnya pada
majalah yang berjudul Future Focus: Tax and Transformation in Asia Pacific’s
New Business Reality, dapat dilihat di www.kpmg.com/taxviews.

Catatan:

Rata-rata tarif pajak tidak langsung saat ini pada bulan Oktober 2011.
Oceania dan Asia dijelaskan dengan definisi dari Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Tentang KPMG International

KPMG adalah jaringan global firma profesional yang memberikan layanan
Audit, Pajak, dan Konsultan. Kami memiliki 138.000 profesional luar biasa yang
bekerjasama untuk memberikan nilai di 150 negara di seluruh dunia. Firma
anggota independen jaringan KPMG berafiliasi dengan KPMG International
Cooperative (“KPMG International”), entitas di Swiss. Setiap firma KPMG adalah
entitas hukum yang berbeda dan terpisah serta seperti yang telah dijelaskan
sebelumnya.

SUMBER: KPMG International

/KONTAK: Untuk keterangan lebih lanjut, atau untuk mengatur interview,
silakan hubungi: James Bigg, Edelman Public Relations, Tel: + 1 416 849 2496,
Email: james.bigg@edelman.com/


Tax Risks and Opportunities in Asia Pacific Uncovered by KPMG: New Magazine Provides an In-Depth Look at the Key Issues

SYDNEY, Australia, Nov. 14 /CNW-AsiaNet/ —

Economic uncertainty, tax and regulatory reform: faced with these complex challenges, tax directors need to take forward-thinking approaches to re-designing their operations and re-shaping their long-term strategies in response.

These challenges came into focus today at the 2011 KPMG Asia Pacific Summit in Sydney, Australia, and through a new magazine entitled Future Focus: Tax and Transformation in Asia Pacific’s New Business Reality.

Future Focus and the Summit explore how companies doing business in the Asia Pacific region need to examine their tax functions and make transformation and innovation their highest priorities to cope with the increased complexities and rapid development the area has seen.

“From transfer pricing audits, to short-term business travelers, to challenges of offshore holding structures, tax authorities are looking at taxpayers’ cross-border activities to shore-up their government’s finances and prevent revenue leakage,” says Warrick Cleine KPMG’s Head of Tax for Asia Pacific. “Businesses in the region are increasingly challenged to keep pace with the speed and complexity of change.”

The magazine, developed by KPMG’s senior tax professionals, identifies how Asia Pacific companies now need to cope with diverse transfer pricing regimes at varying stages of development, from the mature markets of Japan and Australia, to the less developed regimes of South East Asian countries like Malaysia, Indonesia and Vietnam.

Mr. Cleine comments, “These differences can frustrate efforts to establish consistent company-wide transfer pricing policies. Dealing with newer regimes can also be risky. Even though a company’s transfer prices may be sound, the tax authority’s field team, particularly in Asia’s newer markets, may lack technical experience, which can complicate audits and create disputes.”

The Asia Pacific region is already seeing higher levels of scrutiny over transfer prices. In China, for example, although the overall number of cases has remained similar over the past five years, the average value of each adjustment has risen rapidly, so that the total value of adjustments has increased 354 percent (from less than RMB500 million in 2005 to over RMB2 billion in 2009).

According to KPMG tax professionals, there are signs that this trend will accelerate. The increase in transfer pricing regulations within the Asia Pacific region and the corresponding documentation has provided tax authorities with a wealth of data they can use to select audit targets. Thanks to database technology, tax authorities are able to use this information to target industries, groups or even companies with abnormal results and thus focus their search on transactions within these areas.

Future Focus also discusses how businesses in the region need to plan for indirect tax changes and notes how Oceania’s average VAT/GST rate rose from 12 percent in 2010 to 12.5 percent in 2011 and the average rate in Asia rose from 11.64 percent in 2010 to 11.93 percent in 2011.

“Businesses in the Asia Pacific region should keep the coming indirect tax changes in mind in their strategic planning,” says Mr. Cleine. “For example, they should be sure to accommodate new and changing GST/VAT rates when negotiating long-term contracts with suppliers and when implementing new IT systems. They should also make sure their business has the right mix of income tax and GST/VAT management resources in place.”

Planning and preparedness to manage tax risk management are further highlighted in the magazine and discussions about Japan’s earthquake in March 2011 and its aftermath that shows the importance of having a robust system in place for tracking and planning employee travel. Emergencies like these can strike without warning, creating a need to move employees out of the danger zone for uncertain lengths of time or marooning them in a foreign country for longer than intended.

“Whether due to environmental disaster, political unrest or other emergency, such moves can cause the same tax exposures as other employee travel,” says Mr. Cleine. “In fact, these situations could entail even more risk, for example, when the relocation of key decision-makers from one country to another constitutes a shift in business functions with transfer pricing or permanent establishment implications. When such events occur, quick access to data about your employees’ whereabouts and options for relocating them safely and economically is crucial.”

As companies in Asia Pacific countries grow and expand into new markets, their tax teams will need to find ways to cope with complex global issues like these while adding value to their organisations.

Luckily, solutions for many of these issues have already been forged over time and with much difficulty by leading organisations in Europe, North America and around the world.

“Asia Pacific companies can bypass these development phases by adopting systems, processes and technologies that are already proven and tested,” says Mr. Cleine. “Through this new magazine and our Summit, KPMG tax professionals provide many tangible ideas that Asia Pacific companies can employ to leap ahead.”

More information, including social media conversations from the Summit, is now available on Twitter (http://twitter.com/#!/kpmgglobal) and LinkedIn (http://www.linkedin.com/groups?gid=4064840). Videos and other information – including the magazine Future Focus: Tax and Transformation in Asia Pacific’s New Business Reality, can be viewed at www.kpmg.com/taxviews.

Note:

Indirect tax rate averages are current as of October 2011. Oceania and Asia are as described by United Nations definitions.

About KPMG International

KPMG is a global network of professional firms providing Audit, Tax and Advisory services. We have 138,000 outstanding professionals working together to deliver value in 150 countries worldwide. The independent member firms of the KPMG network are affiliated with KPMG International Cooperative (“KPMG International”), a Swiss entity. Each KPMG firm is a legally distinct and separate entity and describes itself as such.

SOURCE: KPMG International

CONTACT: For more information, or to arrange interviews, please contact:
James Bigg
Edelman Public Relations
Tel: +1-416-849-2496
Email: james.bigg@edelman.com/