Para Ahli Konservasi Menanti Kelahiran Badak Sumatra yang Langka

AsiaNet 49811

LAMPUNG, Indonesia, 25 Juni 2012 /PRNewswire-AsiaNet/ —

Badak Indonesia Memberi Harapan akan Spesies ini

International Rhino Foundation (http://bit.ly/MOQLZq) (IRF) tengah mengantisipasi kelahiran badak Sumatra di Sumatran Rhino Sanctuary (http://bit.ly/MGCTQw) (SRS) di Taman Nasional Way Kambas di Indonesia. Kelahiran ini adalah salah satu kemajuan yang paling signifikan dari upaya konservasi badak Sumatra. Oleh karena kurang dari 200 badak Sumatra yang tersisa di Indonesia dan Malaysia, kelahiran badak ini tengah diantisipasi di seluruh dunia.

Anak Badak ini diharapkan akan lahir dalam beberapa minggu ke depan dan induknya yang berusia 12 tahun, Ratu, tengah dipantau oleh dokter hewan, penjaga dan ahli badak dari beberapa benua.

Andalas, sang ayah, dibawa ke SRS dari Amerika beberapa tahun yang lalu dengan harapan bahwa suatu hari ia akan berkembang biak dengan satu atau lebih dari tiga badak betina di SRS.

Kehamilan Ratu adalah pencapaian penting dari upaya kami untuk melestarikan populasi badak Sumatera dan merupakan upaya global,” ungkap Dr. Susie Ellis (http://bit.ly/KZvEF0), Direktur Eksekutif IRF.

Dr. Dedi Candra, Kepala Dokter di SRS, memantau kehamilan Ratu dengan menimbang beratnya setiap minggu dan melakukan uji USG secara rutin, dengan menggunakan metode yang dikembangkan oleh Pusat Kebun Binatang Cincinnati untuk Konservasi dan Penelitian Margasatwa yang Terancam Punah.

Segera setelah kelahiran, Ellis akan mengambil sel plasenta yang mungkin digunakan untuk menghasilkan sel induk. Sel induk memiliki potensi dapat digunakan untuk berbagai tujuan, mulai dari menyembuhkan penyakit hingga membantu reproduksi. Sel fibroblas akan dikeluarkan dari plasenta dan kemudian dibekukan untuk kerja sel induk selanjutnya. Fibroblas digunakan untuk menciptakan sel induk karena mereka mudah diekstrak dan dikembangbiakan di laboratorium. Sel ini akan tetap disimpan di Indonesia.

“Ini adalah cara lain di mana kelahiran dapat memberikan kontribusi untuk pengetahuan dan alat baru yang memiliki potensi penting dalam mempertahankan masa depan spesies penting yang terancam punah ini,” ujar Ellis.

Badak Sumatra terancam oleh terus hilangnya habitat hutan tropis dan tekanan perburuan dari para pemburu yang membunuh badak untuk cula mereka yang bernilai. Setiap kehamilan adalah langkah penting dalam menjaga kelangsungan hidup spesies tersebut, yang mengalami resiko kepunahan pada akhir abad ini. SRS dibuka pada tahun 1998 sebagai kemitraan dengan Yayasan Badak Indonesia dan Taman Nasional Way Kambas, Kementerian Kehutanan Indonesia.

SUMBER: International Rhino Foundation

KONTAK: Bill Konstant
+1-215-233-9318 kantor, atau
+1-610-740-4114 ponsel,
b.konstant@rhinos.org


Conservationists Await Rare Sumatran Rhino Birth

LAMPUNG, Indonesia, June 25, 2012 /PRNewswire-AsiaNet/ —

Indonesian Rhino Gives Hope to Species

The International Rhino Foundation (http://bit.ly/MOQLZq) (IRF) is anticipating the birth of a Sumatran rhino at the Sumatran Rhino Sanctuary (http://bit.ly/MGCTQw) (SRS) in Indonesia’s Way Kambas National Park. This birth is one of the most significant advances of the conservation effort for Sumatran rhinos. With fewer than 200 Sumatran rhinos remaining in Indonesia and Malaysia, the birth is being anticipated globally.

The rhino calf is expected to be born sometime within the next few weeks, and the 12-year-old mother, Ratu, is being monitored by her veterinarian, keepers and rhino experts from several continents.

Andalas, the father, was brought to the SRS from the U.S. several years ago in the hopes that he would one day breed with one or more of the three females at the SRS.

“Ratu’s pregnancy is a significant milestone in our efforts to conserve the Sumatran rhino population and represents a truly global effort,” said Dr. Susie Ellis (http://bit.ly/KZvEF0), executive director of IRF.

Dr. Dedi Candra, head veterinarian at the SRS, is monitoring Ratu’s pregnancy by weighing her weekly and conducting regular ultrasound exams, using methods developed by the Cincinnati Zoo’s Center for Conservation and Research of Endangered Wildlife.

Immediately after the birth, Ellis will harvest placental cells that may be used to generate stem cells. Stem cells have the potential of being useful for many purposes, from curing diseases to helping promote reproduction. Fibroblast cells will be removed from the placenta and then frozen for future stem cell work. Fibroblasts are used to create stem cells because they are easy to extract and culture in the lab. These cells will remain stored in Indonesia.

“This is yet another way in which this birth can contribute new knowledge and tools potentially important to sustaining the future of this critically endangered species,” Ellis said.

The Sumatran rhino is seriously threatened by the continuing loss of its tropical forest habitat and hunting pressure from poachers, who kill rhinos for their valuable horns. Every pregnancy is a vital step toward maintaining the survival of the species, which runs the risk of extinction by the end of this century. The SRS opened in 1998 as a partnership with the Rhino Foundation of Indonesia and Way Kambas National Park, Indonesia Ministry of Forestry.

SOURCE: International Rhino Foundation

CONTACT: Bill Konstant
+1-215-233-9318 office, or
+1-610-740-4114 cell,
b.konstant@rhinos.org